Berilmu, Sabar dan Dicintai Santri

Hj. Chullatul Lutfiyah Sosok Pengasuh Telaten Ponpes Darun Najah

Lumajang - Besarnya Pondok Pesantren Darun Najah Petahunan -Sumbersuko tak lepas dari Ibu Nyai Hj. Chullatul Lutfiyah perempuan yang berperan besar dalam kemajuan pendidikan salaf modern. Selain pemberani dan tangguh, dia juga telaten dan sabar dalam mengasuh santri nya Selasa, (11/02/2020).

Bersama KH. Khozin Barizi dia mengembangkan pendidikan di Desa Petahunan mulai tahun 1995 yang sekarang semakin maju dan berkontribusi besar dalam mencetak kader-kader muda masa depan bangsa.

Menurut Hj. Chullatul Lutfiyah perempuan asli Warga Desa Sumberurip Kecamatan Pronojiwo terdapat lima elemen yang harus ada dalam pondok pesantren, antara lain yaitu pondok sebagai tempat yang berguna sebagai asrama (tempat tinggal) para santri, masjid sebagai tempat yang digunakan untuk beribadah, pengajaran kitab-kitab kuning (klasik) yang merupakan suatu pembelajaran kitab-kitab islam klasik karangan para ulama besar pada masa itu, santri yang merupakan murid yang tinggal di pondok pesantren dan kyai sebagai pengasuh sekaligus guru bagi para santri.

Dalam era modern seperti ini, keberadaan pondok pesantren salaf menjadi pertanyaan bagi beberapa pihak mengenai relevansinya untuk tetap dipertahankan. Pada era ini banyak sekali kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi dan telah memberikan pengaruh positif maupun negatif bagi kehidupan manusia. 

Pengaruh positifnya yaitu sebagai penunjang sarana pembelajaran yang sangat efektif untuk dijadikan sarana dalam proses pembelajaran. Dan pengaruh negatifnya lebih besar dirasakan oleh para santri maupun masyarakat yakni dengan munculnya berbagai macam kerusakan akhlak.

Maka dari itu, jika dibandingkan dengan sekolah umum, pondok pesantren mempunyai kelebihan pada sistem pendidikan yang  lebih pada moral. Sampai dengan di era modern sekarang ini, pondok pesantren masih tetap eksis dan berkembang semakin pesat serta akan tetap dibutuhkan di masa-masa selanjutnya karena dapat memberikan pembinaan mental dan spiritual yang baik. Akan tetapi, sistemnya juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

"Maka dari itu Darun Najah kami kemas menjadi pondok pesantren salaf modern ,seusuai dengan perkembangan jaman" Kata Hj. Chullatul Lutfiyah (50) saat di hubungi Tim Lumajangsatu.com

Untuk menghadapi era modern ini,maka pondok pesantren harus bisa memaksimalkan peranannya dengan meningkakan SDM di pondok pesantren agar warga yang ada didalamnya tidak ketinggalan zaman.

Pondok pesantren harus bisa berpikir terbuka, bebas, dan bijaksana dalam menyikapi perubahan yang terjadi, diantaranya seperti melakukan pembelajaran bahasa asing.Misalnya bahasa Inggris dapat menyeimbangkan antara ilmu dunia dengan ilmu akhirat, karena keduanya sama-sama penting bagi kehidupan seseorang.

Maka dari itu pihaknya menerapkan 2 bahasa di pondok pesantren tersebut, ada Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

"Kami mewajibkan mereka menggunakan 2 bahasa tersebut dalam berkomunikasi" Tandasnya.

Selain itu pihaknya juga menekankan harus mampu mengembangkan pola pemikiran yang kritis supaya tidak hanya fanatik terhadap hukum yang ada didalam kitab-kitab kuning dan juga pendapat para ulama salaf saja. 
Akan tetapi, mereka juga harus bisa memadukan antara hukum salaf dengan kondisi zaman saat ini.

"Dengan cara seperti itu, maka pola pemikiran para warga pondok pesantren akan lebih kritis dan dinamis" tuturnya

Sehingga mereka mampu mengambil keputusan secara bijaksana ketika menanggapi masalah-masalah baru di era modern ini, mampu menyaring mana budaya yang baik atau yang buruk dan berjalan sesuai dengan arus perkembangan zaman tanpa harus keluar dari syari'at yang diajarkan di pondok pesantren. (ind/ls/red)

lumajangsatu.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...
Berita Terkait
Back to Top